Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka mengalami penurunan sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.
Pada Agustus 2019, Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 5,28 persen dibandingkan Agustus 2018 yang sebesar 5,34 persen.
Tingkat Pengangguran Terbuka untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga masih yang tertinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 10,42 persen.
Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka terendah adalah pada jenjang pendidikan SD sebesar 2,41 persen.
Negara kita masih menghadapi persoalan tingginya angka pengangguran terdidik.
Hal ini tercermin dari Tingkat Pengangguran Terbuka lulusan universitas dengan rentang pendidikan S1 hingga S3 yang mencapai 737.000 orang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2019, jumlah pengangguran lulusan universitas mencapai 5,67 persen dari total angkatan kerja sekitar 13 juta orang.
Meski persentasenya turun dibandingkan Agustus 2018 yang 5,89 persen, angkanya masih di atas rata-rata pengangguran nasional yang sebesar 5,28 persen.
Sementara itu untuk struktur penduduk bekerja menurut lapangan pekerjaan pada Agustus 2019 masih didominasi oleh tiga lapangan pekerjaan utama, yaitu Pertanian 27, 33 persen, Perdagangan 18,81 persen, dan Industri Pengolahan 14,96 persen.
Dilihat berdasarkan tren lapangan pekerjaan selama Agustus 2018 hingga Agustus 2019, lapangan usaha yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja terutama pada Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (0,50 persen), Industri Pengolahan (0,2 persen), dan Perdagangan (0,20 persen).
Sementara, lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan utamanya pada Pertanian (1,46 persen), Jasa Keuangan (0,06 persen), serta Pertambangan (0,04 persen).
BPS juga melaporkan, pada Agustus 2019 terdapat 56,02 juta orang (44,28 persen) pekerja formal.
Sedangkan penduduk yang bekerja pada kegiatan informal (mencakup berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas, dan pekerja tak dibayar) ada sebanyak 70,49 juta orang (55,72 persen).
Berdasarkan data diatas tentu penurunan Angka Pengangguran Terbuka tertinggi adalah dari sektor informal dan jenjang pendidikan SD.
Perlambatan ekonomi global dan efek perang dagang salah satu faktor penyebab lambatnya sektor industri dan manufaktur dalam menyerap tenaga kerja lulusan SMK dan Universitas.
Bagaimana peran UMKM dalam penyerapan tenaga kerja?
Dalam data yang dirilis oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia ada 62.922.617 (99,99%) UMKM dan hanya ada 5.460 (0,01%) usaha besar di Indonesia.
Data yang sama juga menunjukkan bahwa UMKM telah menghasilkan 116.673.416 (97,02%) tenaga kerja, sementara usaha besar menghasilkan 3.586.769 (2,98%) tenaga kerja.
Apakah UMKM adalah salah satu solusi mengatasi masalah pengangguran?
Secara angka memang UMKM banyak menyerap lapangan pekerjaan di Indonesia.
Namun saat ini pekerjaan UMKM juga identik dengan pekerja yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah.
Tentu hal ini menunjukkan keterbatasan UMKM untuk dapat scale up atau naik kelas menjadi usaha yang lebih besar.
Padahal dari segi kualitas penyerapan tenaga kerja, unit usaha yang lebih besar memiliki dampak yang lebih besar dibanding usaha mikro dan kecil.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perusahaan besar dapat menyerap pekerja 28 kali lebih besar per bidang usaha dibandingkan dengan yang kecil. Dengan kata lain, pencipta lapangan pekerjaan masih dipegang oleh perusahaan besar.
Dibandingkan dengan negara lain, data dari Bank Dunia menunjukkan struktur ekonomi di Indonesia yang ditopang oleh jumlah UMKM lebih besar dibandingkan unit usaha yang lain merupakan sebuah dilema.
Hal ini bisa mendatangkan masalah karena penyerapan tenaga kerja terdidik pada UMKM yang rendah.
Selain itu perusahaan besar cenderung lebih produktif, menyerap tenaga kerja lebih besar serta lebih mampu melakukan ekspor.
Bukan banyaknya jumlah UMKM namun banyaknya UMKM naik kelas adalah salah satu solusi mengatasi pengangguran
Dengan banyaknya UMKM naik kelas menjadi perusahaan besar tentu akan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan menyerap lebih banyak tenaga kerja berpendidikan tinggi.
Ini karena UMKM yang tumbuh menjadi perusahaan besar tentu akan membutuhkan tenaga-tenaga profesional terdidik baik untuk manajerial, keuangan, marketing dan juga tenaga ahli bidang teknologi di tren era pemasaran online digital yang berkembang saat ini.
Santara sebagai platform urun dana selain sebagai alternatif pendanaaan usaha juga mendorong UMKM untuk naik kelas dan tumbuh besar.
Santara mendorong UMKM untuk melakukan ekspansi usaha dan memperbesar skala usaha dan jaringan usaha.
Saat ini mayoritas penggunaan dana penerbit Santara adalah adalah untuk ekspansi bisnis seperti pembukaan cabang baru dan juga ekspansi produk dan teknologi.
Dengan banyak UMKM yang tumbuh menjadi entitas perusahaan besar maka Santara berharap sektor UMKM bukan hanya dapat menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah namun juga mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi untuk secara nyata dan riil berkontribusi dalam mengurangi Angka Pengangguran Terbuka di Indonesia





