Peran Scale Up UKM dan Industri Rumahan dalam Bangkitnya Negara Raksasa yang Tertidur

0
675

“Ici repose un géant endormi, laissez le dormir, car quand il s’éveillera, il étonnera le monde”

Disinilah raksasa tertidur, biarkan dia tidur, karena ketika dia terbangun, ia akan mengejutkan dunia. (Napoleon Bonaparte)

Berkata sang Jendral dan Kaisar Prancis sesaat setelah ia pulang dari Cina. Napoleon Bonaparte tidak hanya dikenal sebagai ahli strategi militer yang ulung, tetapi juga seorang yang memiliki visi kedepan yang brilian.

Terbukti setelah 195 tahun kematiannya, ucapannya menjadi kenyataan. Cina kini telah menjadi satu salah satu kekuatan ekonomi besar dunia, meski dulunya merupakan negara yang tertinggal.

Data dari Bank Dunia menunjukkan, Produk Domestik Bruto (PDB) Cina dari 2009 hingga 2015 mengalami peningkatan pesat. Pada 2009, angkanya hanya $5,05 triliun. PDB Cina terus meningkat menjadi $10,866 triliun pada 2015 atau hampir dua kali lipat

Cina kini merupakan Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Economist Intelegent Unit memprediksi bahwa Cina akan mampu melipatgandakan PDB-nya menjadi $105,19 triliun serta menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia mengalahkan Amerika Serikat pada 2050.

Apa Strategi Cina Dalam Pembangunan Ekonomi Yang Mengagumkan?

Saat Deng Xioping menerapkan Yi Guo Liangce, terjadi perubahan besar pada Negeri Tirai Bambu tersebut. Sistem kapitalis yang menopang perekonomian Cina, dengan cara membebaskan masyarakatnya dalam berbisnis memberikan dampak yang besar bagi ekonomi mereka.

Xiaomi, Oppo, Lenovo, Huawei, HTC merupakan brand-brand elektronika terkemuka buatan Cina yang tak asing bagi telinga masyarakat Indonesia.

Tapi tahukah anda bahwa barang-barang tersebut dibuat oleh industri rumahan?

Yasheng Huang dalam tulisannya Capitalism With Chinese Characteristics:

Enterpreneurship and the State, mengatakan bahwa pada Maret 1984, Deng Xioping memanfaatkan UKM (usaha kecil menengah) serta bisnis swasta daerah untuk menopang perekonomian Cina, yang kemudian dikenal dengan Township and Village Enterprises (TVEs).

Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa produk dari Cina selalu terbilang murah. Karena mayoritas yang menjalankan perputaran ekonomi adalah bisnis swasta daerah dan UKM yang tersebar di beberapa provinsi seperti Guangdong, Fujian, Zhejiang, Jiangsu, dan Shandong.

Peran dari pemerintah adalah mendukung penuh serta membiayai dengan cara pemberian pinjaman kepada pelaku bisnis. Sebagai bukti pemerintah Cina mendukung program TVEs, maka setiap tahunnya diberikan pelatihan kepada 200.000 pemuda desa berupa satu atau dua bidang teknik yang dapat diterapkan di daerahnya, tulis Pamuji dalam bukunya yang berjudul “Diplomasi China, Indonesia dan Presiden Baru”.

Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah Cina juga aktif bekerja sama dengan lembaga riset baik di tingkat pusat maupun daerah untuk terus mengembangkan teknologi yang kemudian akan dipakai di pedesaan ataupun oleh industri rumahan.

Dan terobosan baru yang luar biasa dari pemerintah Cina untuk mendukung Usaha Kecil Menengah dan Bisnis Swasta Daerah pada bidang teknologi pada tahun 2019 adalah dengan meluncurkan Shanghai Star Market yaitu Pasar Modal Khusus untuk Usaha Rintisan Teknologi atau Startup

Dalam tujuh bulan disusunlah konsep dan dirumuskan peraturannya.

Ditemukanlah jalan khusus. Agar anak muda bergairah. Dalam memulai startup. Caranya: pasar modal Shanghai membuat jalur khusus untuk startup. Agar mereka bisa segera mendapat modal besar. Secara fair. Dari pasar saham.

Program baru Star Market ini mirip Bursa Nasdaq di Amerika.

Dengan demikian pemerintah tidak terlibat langsung. Tidak perlu ikut menilai mana startup yang berpotensi maju. Semuanya diserahkan ke pasar. Masyarakatlah yang akan menentukan masa depan startup.

Dalam waktu sekejap peminatnya terlihat besar. Ada 141 perusahaan startup yang mengajukan diri untuk go public. Dari jumlah itu 25 perusahaan dinyatakan memenuhi syarat. Dimasukkan dalam gelombang pertama IPO.

Senin 22 Juli kemarin adalah hari pertama itu. Dimulailah penjualan saham mereka. Perdagangan itu dimulai pukul 9. Yang mendapat respon luar biasa. Satu jam kemudian dilakukanlah ini penjualan saham salah satu perusahaan itu dihentikan. Terlalu laris. Harga sahamnya naik sampai lebih 400 persen. Hanya dalam waktu satu jam.

Perdagangan diberhentikan berkali-kali karena saking agresifnya para investor memburu saham-saham di Star Market. Ada sebanyak 25 perusahaan yang terdaftar di Nasdaq ala Shanghai ini. Dalam perdagangan perdana Star Market, penjualan saham-saham yang terdaftar di Star Market melesat hingga 520%. Nilai pasar gabungan yang melambung tinggi mencapai US$ 44 miliar di luar ekspektasi para investor.

Bukan main terkejutnya pasar modal Shanghai. Mana ada bisnis seperti ini dalam satu jam untung jual beli saham mencapai empat kali lipat.

Nama perusahaan yang sahamnya sampai ditutup dua kali itu adalah Shanghai Anji Microelectronics. Bergerak di bidang Microchip.

Di Cina memang kesadaran dan literasi investasi sudah terbangun dengan baik terdapat sekitar 100 juta orang yang aktif jual beli saham di pasar modal. Yang mampu melakukan transaksi saham di atas Rp 1 miliar pun sudah sekitar 4 juta orang.

25 perusahaan startup yang masuk Star Market gelombang pertama itu. Mereka bergerak di bidang Microchip, Bioteknologi, Artificial Intelligence, Semiconductor dan Teknologi Material Baru.

Diluncurkannya Star Market ini menjadi terobosan bagi para penemu dan inovator teknologi. Yang biasanya kesulitan modal. Yang lantas menyerah ke pemilik modal. Yang belum tentu mengerjakannya. Kalau hitungan bisnisnya tidak cocok. Atau pemilik modal itu kurang mengerti pentingnya teknologi yang ditemukan.

Maka opsi lainnya adalah penemuannya terkubur begitu saja.

Melonjaknya harga saham Star Market itu tentu menjadi pendorong penemuan-penemuan dan inovasi baru. Bahkan kian seru perang dagang dengan Amerika kian meningkatkan harga saham mereka. Seperti ada jaminan produk mereka akan laris di dalam negeri. Tidak perlu bersaing dengan bikinan Amerika.

Peluncuran Shanghai Star Market adalah bukti nyata bahwa pemerintah Cina sangat mendukung dan percaya diri dengan kemampuan inovasi, kreatifitas dan penemuan teknologi anak-anak muda di Negara Tirai Bambu tersebut.

Melihat strategi Cina dalam membangun perekonomiannya dengan cara mendorong dan mendukung penuh perkembangan UKM, Industri Rumahan dan Usaha Rintisan Teknologi bukan tidak mungkin bagi Indonesia untuk mengikuti jejaknya. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah UKM Indonesia pada tahun 2014 adalah sebanyak 56.534.592.

Potensi tersebut tentu bisa menjadi modal untuk membangkitkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika dukungan dan fasilitasinya berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia bisa sejajar atau mengejar kekuatan ekonomi Cina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here