Analisa Fundamental

0
546

Salah satu teknik analisa dalam investasi saham adalah analisa fundamental.

Teknik ini melihat kondisi dan nilai suatu perusahaan berdasarkan kinerja dan proyeksi perusahaan. Secara umum pendekatan analisis fundamental terbagi dua macam yaitu top down dan bottom up.

Untuk top down, obyek yang dianalisa adalah kondisi makro ekonomi, sektor industrinya dan terakhir perusahaan. Sedangkan bottom up adalah kebalikannya mulai dari perusahaan, sektornya dan kondisi makro ekonomi.

Keadaan makro ekonomi sebuah negara sangat mempengaruhi kondisi sebuah perusahaan. Banyak yang percaya, pertumbuhan nilai perusahaan sangat dipengaruhi kondisi makro. Karena itu analisa keadaan makro ekonomi sebuah negara sangat penting.

Asumi makro yang biasa digunakan diantaranya produk domestik bruto (GDP), angka pengangguran, inflasi dan suku bunga acuan alias BI rate. Hal lain yang juga perlu dianalisis yaitu jumlah uang beredar, neraca pembayaran, angaran belanja negara dan lain-lain. Dengan menganalisis, investor dapat mengetahui bagaimana prospek perekonomian ke depan, sekaligus prediksi atau peluang krisis terjadi.

Perihal risiko suku bunga, misalnya, kita tahu bahwa di Indonesia ada yang disebut BI Rate, yakni tingkat bunga acuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Tingkat bunga ini akan menjadi referensi bagi perbankan untuk menentukan tingkat bunga deposito dan juga tingkat bunga pinjaman. Kalau tingkat bunga naik atau diperkirakan akan meningkat, itu berarti di pasar keuangan, likuiditas akan mulai ketat. Itu juga merupakan sinyal bahwa ekonomi mulai ”Panas”. Di sisi lain, kenaikan tingkat bunga tersebut akan memberi pengaruh terhadap dunia usaha. Pinjaman dari perbankan akan semakin mahal harganya. Konsekuensinya, biaya produksi akan meningkat. Ini akan berdampak pada inflasi atau kenaikan harga barang, dan atau di sisi lain, keuntungan perusahaan akan menurun. Demikian seterusnya, saling berkait, hingga pada gilirannya akan memberi imbas tekanan pada harga saham.

Contoh yang lain adalah risiko perubahan nilai tukar, yaitu ketika dollar AS semakin mahal yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai tukar dollar AS dibandingkan dengan rupiah. Misalnya, sebulan yang lalu, 1 dollar AS setara dengan Rp 12.800. Bulan ini, nilai tukar tersebut berubah menjadi, misalnya, 1 dollar AS sama dengan Rp 14.700. Ini berarti harga dollar AS semakin mahal. Apa sebab dan apa dampaknya? Banyak. Salah satu sebab, misalnya para penanam modal di Indonesia melepas investasi dan menukarnya dengan dollar AS sehingga dollar AS diburu dan harganya meningkat.

Atau, Indonesia banyak melakukan impor yang membutuhkan dollar AS. Atau, juga banyak kalangan yang mesti membayar utang ke luar negeri yang membutuhkan dollar AS. Lalu, apa dampaknya? Secara ekonomi riil, kenaikan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah akan membuat harga barang impor semakin mahal sehingga pada gilirannya bisa memberi pengaruh terhadap harga barang di dalam negeri. yang dampak terakhirnya adalah inflasi.

Setelah mengetahui kondisi perekonomian hal yang tidak kalah penting adalah menganalisa industri di mana perusahaan berada. Tingkat persaingan dalam industri sangat penting dipahami. Apakah persaingannya sehat atau tidak? Terakhir adalah menganalisa perusahaan dimana kita ingin berinvestasi. Analisa perusahaan sebenarnya cukup luas mulai dari analisa bisnis model perusahaan, profesionalitas manajemen perusahaan, laporan keuangan hingga valuasi.

Setelah menganalisa hal-hal diatas kita dapat menyimpulkan apakah perusahaan tersebut mempunyai prospek kedepannya atau tidak. Menganalisa laporan keuangan adalah mengetahui bagaimana sebuah perusahaan beroperasi.

Apakah sudah sesuai harapan dan tujuan investasi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here