Bottom Of The Economic Pyramid

0
409

Sebuah Teka-Teki kesenjangan Ekonomi Masyarakat Global yang belum terpecahkan hingga saat ini

Bagian bawah piramida ekonomi (BoP), bagian bawah piramida kekayaan atau bagian bawah piramida pendapatan adalah kelompok sosial-ekonomi terbesar, tetapi termiskin. Dalam istilah global, ini adalah total 2,7 miliar orang didunia yang hidup dengan kurang dari $ 2,50 sehari.

Telah dilaporkan bahwa kesenjangan antara ToP dan BoP melebar dari waktu ke waktu sedemikian rupa sehingga hanya 1% dari populasi dunia mengendalikan 50% dari kekayaan saat ini, dan 99% lainnya memiliki akses ke 50% sisanya.

bagaimana hal aneh ini bisa terjadi 1% orang menguasai 50% kekayaan didunia apa yang salah dengan sistem ekonomi dunia? Inilah teka-teki dan misteri masalah ekonomi dan kemiskinan yang belum terpecahkan oleh ahli ekonomi dari era merkantilisme, era konsep pasar bebas Adam Smith hingga sistem kapitalisme ekonomi modern

Sarjana manajemen CK Prahalad mempopulerkan gagasan demografis ini sebagai basis konsumen yang menguntungkan dalam bukunya tahun 2004, The Fortune at the Bottom of the Pyramid, ditulis bersama Stuart Hart.

Semakin banyak penggunaan saat ini mengacu pada miliaran orang yang hidup dengan kurang dari $ 2 per hari, definisi yang diusulkan pada tahun 1998 oleh C.K. Prahalad dan Stuart L. Hart. Kemudian diperluas oleh keduanya dalam buku-buku mereka: Keberuntungan di Piramida Bawah oleh Prahalad pada tahun 2004 dan Kapitalisme di Persimpangan oleh Hart pada tahun 2005.

Prahalad mengusulkan agar bisnis, pemerintah, dan lembaga donor berhenti memikirkan orang miskin sebagai korban dan alih-alih mulai menganggap mereka sebagai wirausaha yang tangguh, inovatif dan kreatif serta konsumen yang menuntut nilai.

Dia mengusulkan bahwa ada manfaat luar biasa bagi perusahaan multinasional yang memilih untuk melayani pasar ini dengan cara yang responsif terhadap kebutuhan mereka. Bagaimanapun juga, kaum miskin hari ini adalah kelas menengah di masa depan. Ada juga manfaat pengurangan kemiskinan jika perusahaan multi-nasional bekerja dengan organisasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah untuk menciptakan model bisnis lokal baru.

Namun, ada beberapa perdebatan tentang proposisi Prahalad. Aneel Karnani, juga dari Ross School di University of Michigan, berpendapat dalam sebuah makalah tahun 2007 bahwa tidak ada keberuntungan di bagian bawah piramida dan bahwa bagi sebagian besar perusahaan multinasional, pasarnya benar-benar sangat kecil.

Karnani juga menyarankan bahwa satu-satunya cara untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan memusatkan perhatian pada orang miskin sebagai produsen, bukan sebagai pasar konsumen. Prahalad kemudian memberikan tanggapan beberapa halaman untuk artikel Karnani. Kritik tambahan terhadap proposisi Prahalad telah dikumpulkan dalam “Memajukan Debat ‘Piramida Bawah'”.

Sementara itu, Hart dan koleganya Erik Simanis di Pusat Cornell University for Sustainable Global Enterprise mengajukan pendekatan lain, yang berfokus pada orang miskin sebagai mitra dan inovator bisnis, daripada hanya sebagai produsen atau konsumen potensial.

Hart dan Simanis telah memimpin pengembangan Base of the Pyramid Protocol, sebuah proses kewirausahaan yang memandu perusahaan dalam mengembangkan kemitraan bisnis dengan masyarakat miskin dalam rangka “menciptakan bisnis dan pasar yang saling menguntungkan perusahaan dan masyarakat”. Proses ini telah diadopsi oleh SC Johnson Company dan Solae Company (anak perusahaan DuPont).

Selanjutnya, Ted London di William Davidson Institute di University of Michigan berfokus pada implikasi pengentasan kemiskinan dari usaha-usaha Piramida Bawah. Dia telah menciptakan pengajaran BoP yang dirancang untuk diintegrasikan ke dalam berbagai macam kursus umum di sekolah bisnis yang menjelaskan pemikiran BoP saat ini. Dia telah mengidentifikasi Perspektif BoP sebagai pendekatan berbasis pasar yang unik untuk pengentasan kemiskinan.

London juga telah mengembangkan Kerangka Penilaian Dampak BoP, sebuah alat yang menyediakan panduan yang holistik dan kuat untuk usaha-usaha BoP untuk menilai dan meningkatkan dampak pengentasan kemiskinan mereka. Kerangka kerja ini, bersama dengan alat dan pendekatan lain, diuraikan dalam Pangkalan Janji Piramida London dan telah dilaksanakan oleh perusahaan, lembaga nirlaba, dan agen pembangunan di Amerika Latin, Asia, dan Afrika.

Mardigu WP pengusaha yang juga seorang guru dan mentor para Wirausaha Pelaku UKM dalam tulisan singkatnya juga mengajukan ide terobosan tentang “Bottom Of The Economic Pyramid Consolidate” dan mengemukakan gagasan brilian tentang implementasi “Crowdfunding”, “Token” dan “Blockchain” sebagai solusi teknologi inovatif di Era Revolusi 4.0 untuk konsolidasi dan menata struktur ekonomi dimasyarakat piramida bawah yang selama ini BoP cenderung tidak terkonsolidasi, tidak teratur, tidak memiliki strategi, tidak berkolaborasi dan tidak kerjasama antar sesama BoP untuk meningkatkan kemakmuran.

Mardigu WP menggunakan pendekatan Empiris dan Observasi Riset Hudsonian dari Prof. Michael Hudson Dosen dan Ahli Riset Ekonomi dari Universitas Missouri, Kansas City (UMKC) dan anggota peneliti di Levy Economics Institute, Bard College untuk mengentaskan kemiskinan dan membangun kemakmuran.

Dengan cara Konsolidasi, Kolaborasi, Restrukturisasi dan Kemitraan Bersama dalam skema Crowdfunding BoP untuk memperkecil Gap atau jarak kemiskinan antara Piramida Atas dan Piramida Bawah dengan memanfaatkan teknologi Crowdfunding dan Blockchain.

Konsep, Ide dan Gagasan. “Consolidate BoP” Mardigu WP ini kalau memang bisa terbukti Proven dan dapat berjalan dengan baik untuk mengatasi kesenjangan kemiskinan, sesungguhnya cukup layak diganjar Hadiah Nobel Ekonomi karena sampai saat ini belum ada Pakar Ekonomi yang mengajukan konsep, ide dan gagasan untuk melakukan Konsolidasi, Interkoneksi dan Menata Struktur Ekonomi masyarakat BoP yang cenderung saat tidak teratur ,terorganisir dan tertata dengan baik.

Dalam persepektif Santara tentang BoP atau Piramida Bawah, Urun Dana atau Equity Crowdfunding berbasis Blockchain dapat menjadi sebuah pendekatan holistik atau Platform untuk konsolidasi BoP untuk pengentasan kemiskinan, yaitu dengan mengkoneksikan UKM dilevel BoP dengan Crowd Investor dilevel BoP untuk menjalin kemitraan yang saling menguntungkan dalam membangun kemakmuran.

Urun Dana dapat menjadi solusi permodalan untuk Wirausaha BoP dan juga dapat memberikan literasi kesadaran mengelola keuangan dan Investasi kepada Crowd Investor BoP untuk mencapai kemakmuran. Seperti kita ketahui saat ini baru sekitar 2% penduduk Indonesia yang berinvestasi di Pasar Saham dan Produk Investasi lainnya dan mereka umumnya dari kalangan Piramida atas.

Dengan memberikan edukasi kepada Crowd Investor untuk berinvestasi pada Saham-saham UKM baik melalui Analisa Fundamental dan Analisa Teknikal untuk menilai dan menganalisa resiko seatu saham UKM sehingga Crowd Investor BoP dapat bertranformasi dari saat ini sebagai “Konsumen Konsumtif” menjadi “Investor Terdidik” diharapkan dapat membentuk sebuah “Real Economic Blockchain” atau “Rantai Ekonomi Sektor Riil” yang sesungguhnya, yang Rantai Ekosistemnya dapat bersinergi dan berputar mendorong pertumbuhan sektor UKM dan Wirausaha di Indonesia.

Tentunya Santara juga memberikan edukasi kepada para Wirausaha UKM untuk menjaga Amanah dan Kepercayaan dari kemitraan dengan para Crowd Investor dan Pasar Saham UKM agar tercipta “Sistem Kepercayaan Pasar Saham” dan “Rantai Ekosistem Ekonomi” yang konsisten, berkesinambungan dan dinamis sehingga terjalin hubungan “Rantai” yang harmonis dan simbiosis mutualisme di level ekonomi BoP dan mampu menjadi “Pemecah Tembok Es” untuk memperpendek Gap atau jarak antara Piramida Atas dan Piramida Bawah yang bisa menjadi Roket Pendorong kemajuan perekonomian dalam pengentasan kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here