7 Manfaat Kina si “Putri Raja” untuk Kesehatan yang Perlu Anda Ketahui

0
411

Konon, pohon kina berasal dari sebuah negara di Amerika Latin bernama Peru.

Alkisah, di suatu daerah, tinggallah seorang bangsawan kaya dan terpandang yang memiliki seorang anak gadis nan cantik jelita. Gadis itu bernama Comtessa Del Cinchon (Countess of Cinchon).

Suatu waktu, tanpa diketahui apa penyebabnya gadis berwajah cantik itu jatuh sakit, suhu badannya tinggi, namun ia menggigil kedinginan, sesekali mengigau dan mengeluarkan kata-kata yang tak jelas (ngeromet).

Tentu saja orang tuanya bingung, lantas memutuskan  memanggil dukun. Namun, dari beberapa dukun yang dipanggil, menyatakan bahwa Cinchon mengalami gangguan roh jahat, dan untuk mengusir roh tersebut diperlukan berbagai upaya melalui upacara ritual.

Tapi upaya tersebut tidak mendatangkan hasil, bahkan keadaan semakin parah, badannya makin kurus, nafsu makan merosot,  sehingga orang tuanya makin kuatir.

Untunglah dalam keadaan kritis itu, didatangkanlah seorang  dukun dari suku Indian. Oleh dukun tersebut dibacakan mantra-mantra dan diberi minuman yang terbuat dari kulit pohon tertentu.

Apa yang terjadi? Keadaan gadis Cinchon berangsur-angsur membaik, tapi ternyata bukan karena mantra-mantra sang dukun penyebabnya, melainkan berkat kulit pohon yang direbus menjadi minuman yang sangat pahit rasanya yang diminumkan ke gadis tersebut sehingga sembuh.

Oleh karena itu, pohon yang kulitnya digunakan untuk mengobati demam tersebut kemudian dinamakan Cinchona.

Apa itu Pohon Kina?

Pohon kina atau Cinchona adalah adalah genus tanaman yang berasal dari famili Rubiaceae.

Nama ilmiah Chichona diambil dari nama seorang putri kerajaan sekaligus istri dari seorang raja muda Peru, yaitu putri Chinchon  (Countess of Chinchon)

Putri Chinchon ini terkena penyakit malaria pada tahun 1630.

berkat ramuan herbal dari kulit kayu tanaman inilah putri tersebut dapat sembuh dari penyakit malaria.

Cinchona terdiri dari kurang lebih 40 spesies pohon kina. Tinggi pohon ini umumnya sekitar 15-2- meter. Tanaman kina menghasilkan bunga yang berbeda-beda mulai dari warna putih, kuning, dan merah muda.

Bagian tanaman kina yang digunakan sebagai herbal adalah kulit pohonnya. Jenis tanaman Cinchona adalah adalah sumber senyawa alkaloid, salah satu yang terbanyak adalah kuinina. Dari 25 jenis pohon kina, yang paling sering dibudidayakan adalah jenis Cinchona officinalis, Cinchona pubescens, dan Cinchona calisaya.

Sejarah Tanaman Kina di Indonesia

Tanaman kina yang pertama kali di Pulau Jawa berasal dari kiriman kebun percobaan di Leiden, Belanda. Pada tahun 1852, bibit pohon kina tersebut dibawa ke Pulau Jawa. Namun karena lama di perjalanan, bibit tersebut tiba dalam keadaan sudah layu.

Seorang hortulanus (pengawas) Kebun Raya bernama Teysman berhasil mengambil steknya dan akhirnya berhasil tumbuh. Pohon itu merupakan pohon kina pertama yang tumbuh di luar Amerika Latin.

(sebelumnya Inggris dan Perancis telah mencoba di negeri-negeri jajahan mereka di Afrika, namun karena iklimnya tidak cocok, maka tak sebatang pun bibit kina yang tumbuh).

Kulit kina yang dijadikan bahan baku obat malaria, pertama kali didatangkan ke Eropa pada tahun 1632. Dalam kurun waktu setengah abad kemudian, perannya sebagai obat menjadi sangat penting.

Didorong oleh keuntungan dan manfaat yang akan diperoleh, Belanda bernafsu untuk membudidayakan tanaman tersebut di Nusantara, yang lantas menugaskan Justus Karl Hasskarl, mantan Direktur Kebun Raya Bogor dan sekaligus teman dekat Junghuhn untuk mendapatkannya. Hasskarl ditugaskan “mencuri” bibit tanaman tersebut dari negeri asalnya, dan rupanya ia berhasil menjalankan tugas dengan baik.

Bibit dan 121 peti berisi bibit pohon kina jenis Caliyasa berhasil diselundupkan di bawah kawalan kapal perang Belanda. Karena waktu tempuh yang lama, tidak semua bibit berhasil diselamatkan. Dari sebanyak 70 bibit yang masih hidup, kemudian ditanam di Cibodas, Puncak (Jawa Barat). Tugas membudidayakan tanaman tersebut diserahkan kepada Junghuhn pada tahun 1855.

Tetapi, karena lokasinya kurang tepat, Junghuhn kemudian memilih lereng-lereng barat Gunung Malabar di daerah Pangalengan, Bandung Selatan. pilihan tersebut terbukti sangat tepat karena suhu dan curah hujan di daerah tersebut sangat cocok untuk tanaman kina.

Pada tahun 1865, setahun setelah Junghuhn meninggal, budi daya tanaman kina berlangsung secara besar-besaran di daerah Bandung Utara.

Nusantara, budi daya kina membutuhkan perlakuan khusus, di samping iklim yang cocok dengan negeri asalnya. Setelah dilakukan beberapa kali eksperimen, kina dapat tumbuh dengan baik di Dataran Tinggi bandung, sehingga didirikanlah pabrik kina di kota  Bandung, yang bernama ” Bandoengsche Kinine Fabriek N.V”, dimana pabrik kina merupakan industri paling tua di kota ini.

Pabrik kina tersebut yang kini menjadi PT (Persero) Kimia Farma, didirikan tahun 1896,  merupakan tonggak sejarah Dataran Tinggi Bandung di dunia Internasional sebagai pemasok kina paling besar di dunia.

Bandoengsche Kimia Fabriek N.V., mencapai masa jayanya sampai menjelang Perang Dunia Kedua. Saat itu, Belanda betul-betul menikmati keuntungan besar dari perdagangan kina.

Jika tahun 1875 produksi kina baru mencapai 22 ton, maka pada tahun 1895 sudah meningkat menjadi 1.000 ton. Produksi kulit kina terus meningkat sejalan dengan makin luasnya area perkebunan tersebut.

Sehingga pada abad ke 20, Pulau Jawa menjadi terkenal karena menghasilkan lebih dari 90 persen produksi kina dunia.

Manfaat Kina bagi Kesehatan

Manfaat tumbuhan kina sudah dipercaya sejak tahun 1600an, terutama sebagai pengobatan malaria. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak manfaat kulit pohon kina yang ditemukan. Penggunaan tanaman kina sebagai herbal juga kini hampir tersebar di seluruh dunia.

Berikut ini khasiat kina bagi kesehatan dikutip dari doktersehat.com:

1. Mengatasi malaria

Manfaat kina yang pertama dan yang paling populer adalah mengatasi malaria. Manfaat tanaman kina satu ini berasal dari kandungan alkaloid, kuinina, yang terkandung dalam tanaman kina. Tanaman ini membantu meringankan gejala malaria dengan cara membunuh dan menghalangi pertumbuhan parasit malaria yang ada dalam aliran darah.

Penggunaan kina untuk mengatasi malaria pada ibu hamil trimester pertama juga masih dilakukan, karena memang hingga kini belum ditemukan obat malaria yang lebih kuat.

2. Mengatasi masalah pencernaan

Kina juga dapat digunakan untuk mengatasi berbagai masalah pencernaan. Kulit pohon kina dapat merangsang produksi jus pencernaan yang mengandung enzim yang dibutuhkan oleh saluran pencernaan.

Selain itu, manfaat kina lainnya adalah dapat mengatasi parasit dan protozoa dalam usus yang dapat menyebabkan berbagai masalah dalam pencernaan.

3. Mengatasi beberapa gangguan jantung

Tanaman kina juga memiliki manfaat untuk kesehatan jantung. Penggunaan kina untuk jantung telah dilakukan sejak akhir abad ke -17. Pada paruh pertama abad ke-18, ditemukan penggunaan kina untuk pengobatan masalah jantung dan aritmua.

Manfaat ini didapatkan dari zat alkaloid lain yang ditemukan dalam kina yaitu kuinidin. Hingga hari kuinidin yang diproduksi dari kuinin masih digunakan sebagai pengobatan untuk aritmia. Kuinidin dihasilkan dari kina alami, karena hari ini belum tercipta sintetisnya.

4. Digunakan sebagai obat flu

Mengatasi berbagai gejala flu juga merupakan salah satu manfaat kina. Kina digunakan untuk mengatasi influenza ringan, flu biasa, bahkan flu babi. Kina dapat menurunkan gejala flu seperti bersin-bersin, hidung mampet, dan lainnya.

Tanaman kina juga bisa membantu menurunkan demam  karena termasuk ke dalam obat antipiretik atau penurun demam.

4. Membantu mengatasi kanker

Kina juga tercatat sebagai salah satu obat untuk terapi kanker. Penggunaan kina sebagai obat tradisional untuk kanker dilakukan di Amerika Selatan. Kina dipercaya dapat mengobat beberapa jenis kanker seperti kanker payudara, kanker hati, kanker limpa, dan beberapa jenis kanker lainnya.

6. Mengatasi gangguan pembuluh darah

Kina juga dipercaya dapat mengatasi beberapa masalah pembuluh darah. Beberapa kondisi masalah pembuluh darah yang dapat diatasi dengan kina adalah seperti varises dan wasir. Umumnya digunakan kina dalam bentuk obat topikal untuk pengobatan masalah ini.

7. Mengatasi kram otot kaki

Manfaat kina yang terakhir adalah sebagai obat untuk kejang otot dan kram kaki. Manfaat tenaman kina yang satu ini dibuktikan dengan beberapa penelitian. Seperti sebuah penelitan pada tahun 1998 yang merekam efek positif dari kina untuk kram kaki dan menunjukkan tinitus sebagai satu-satunya efek samping.

Penelitian lainnya dilakukan pada tahun 2002 dan menunjukkan bahwa pemberian kina efektif untuk menurunkan intensitas, frekuensi, dan nyeri pada kram kaki tanpa menimbulkan efek samping.

Cara Mengonsumsi Kina yang Aman

Kulit pohon kina yang tersebar di pasaran adalah kulit pohon kina yang sudah dikeringkan. Sebagian produsen juga memasarkannya dalam bentuk serbuk. Tanaman kina juga ditemukan dan diekstrak untuk berbagai produk farmasi hingga kosmetik.

Penggunaan kina secara tradisional sangat mudah. Anda hanya perlu meminum air rebusan kulit pohon kina sebanyak 1-3 kali perhari. Penggunaan bubuk kina menggunakan kapsul juga bisa dilakukan, dosisnya adalah 2 gram bubuk kina per hari.

Alkaloid dalam kina juga dapat ditemukan dan dijual dalam bentuk obat resep. Manfaatnya tentu kurang lebih sama seperti manfaat pohon kina secara alami. Namun sebagai obat resep, penggunaan alkaloid kina sebaiknya dilakukan sesuai dengan petunjuk dokter.

Baik penggunaan secara tradisional maupun sebagai obat resep, tentunya kina tetap berpotensi menimbulkan efek samping, meskipun memang tidak terjadi pada semua orang. Ikuti penggunaan kina sesuai dengan dosis yang disarankan agar tidak menimbulkan efek samping.

Alkaloid dalam kian berpotensi menjadi racun jika digunakan dalam jumlah berlebihan. Maka dari itu, meskipun kina merupakan bahan alami, tanaman ini tetap tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan sebagai obat.

Jika mengalami efek samping akibat penggunaan kina, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penelitian terhadap kina tentunya semakin alam semakin perkembang, sebelum menggunakannya sebagai obat herbal, pastikan telah mengacu pada penemuan terbaru tentang tanaman ini.

Menggunakan herbal sebagai pengobatan memang bisa saja ampuh untuk berbagai penyakit. Namun sebaiknya tetap di bawah pengawasan ahli herbal. Jika sedang mengonsumsi obat resep, selalu konsultasikan dengan dokter jika ingin menggunakan obat herbal.

Sumber: https://doktersehat.com/manfaat-kina/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here