Peran Wirausaha di Era Awal Kemerdekaan RI

0
617

Wirausaha atau pengusaha dalam era awal berdirinya Republik Indonesia cukup memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, salah satu kisah sejarah yang terkenal adalah ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh pada pertengahan Juni 1948. Lawatan Bung Karno ini salah satu tujuannya mencari dana untuk pembelian pesawat. Di Tanah Rencong, pemuda dan pengusaha dikumpulkan.

Sejak ditandatangi Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948, di penghujung tahun kala itu tingkah laku Belanda luar biasa. Mereka ingin membubarkan Republik Indonesia. Sejak saat itu berbagai negara ‘boneka’ didirikan Belanda mengepung wilayah RI. Seluruh ibu kota provinsi di Indonesia telah diduduki. Satu-satunya wilayah yang masih utuh dan bertahan adalah Aceh.

Memiliki pesawat angkut sipil dianggap mendesak karena kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Maka Sukarno, saat melakukan perjalanan keliling Sumatra, sekaligus sambil menggelar kampanye pengumpulan dana pesawat Dakota.

Dalam buku “Aceh Daerah Modal” yang ditulis Tgk. AK Jakobi diceritakan keadaan RI waktu itu benar-benar mencekam, . Dituliskan dalam buku itu, Aceh sebagai salah satu alternatif yang berdasar latar belakang sejarah dan potensi ril pada saat itulah yang mampu bertindak sebagai basis untuk menggerakkan perang semesta. Dalam situasi gawat seperti itu, Bung Karno terbang ke Tanah Rencong, satu-satunya wilayah RI yang masih utuh dan tidak dikangkangi Belanda

Sementara pulau-pulau di timur Indonesia saat itu dalam kondisi masih rawan karena Belanda memblokade hampir seluruh Laut Jawa.

“Saya tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu belum terkumpul,” kata Bung Karno seraya tersenyum seperti ditulis Tgk. A.K Jakobi dalam buku Aceh Daerah Modal.

Para pengusaha serta tokoh-tokoh perjuangan saling melirik ketika mendengar pernyataan Bung Karno. Mereka ingin tahu siapa yang akan memulai menyumbang. Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) M. Djuned Joesoef menjadi orang pertama yang menyumbang. Setelah dia, pengusaha lain menyusul.

Untuk memenuhi dana pembelian pesawat, 13 perusahaan ekspor impor Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) sepakat urunan. Sebagian keuntungan penjualan kopra ke Malaysia disisihkan sebesar 200 Ringgit. Dalam dua bulan, terkumpul 120 ribu Ringgit atau senilai 20 kilogram emas. Itu cukup untuk membeli satu pesawat Dakota.

Pesawat angkut yang dibeli dari dana Aceh itu kemudian diberi nomor registrasi RI-001, dan dinamakan Seulawah yang berarti Gunung Emas. Seulawah memang nama gunung di Aceh. Diberi nama demikian sebagai penghormatan terhadap rakyat Aceh yang bersusah payah membantu perjuangan RI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here